Menulis Perjalanan Keluarga

Ketika ingin menulis sebuah perjalanan saya sering bingung menentukan angle cerita apa yang menarik karena terlalu banyak hal-hal unik. Atau bahkan tidak tahu ide menarik apa yang bisa saya tuangkan di dalam tulisan. Semua kendala tersebut sudah terjawab setelah beberapa  waktu lalu saya mengikuti workshop yang diadakan The Urban Mama Ngopi Cantik bersama salah satu penulis perjalanan yang terkenal sekaligus founder dari IWASHERE network,yakni, Windy Ariestanty. Tema yang dibahas kali ini adalah “Menulis Kisah Perjalanan Keluarga”.

Banyak sekali poin-poin menarik yang dibahas dalam ngopi cantik kali ini. Diantaranya:

  • WHY do you travel and bother to write?

Kenapa sih kita melakukan perjalanan bersama keluarga? Dan kenapa kita harus menuliskannya? Ada berbagai macam alasan yang dikemukaka oleh Urban Mama yang hadir saat itu. Ada yang melakukan perjalanan karena untuk refreshing, untuk meningkatkan bonding dengan anak, ada juga yang ingin untuk memberikan pendidikan kepada anak-anaknya melalui perjalanan. Lalu kenapa kita ingin menuliskan perjalanan tersebut? Dari sekian banyak jawaban hanya satu tujuan utamanya, yakni untuk diwariskan. Diwariskan kepada anak cucunya kelak, tempat-tempat apa saja yang pernah dikunjungi, pengalaman apa saja yang didapat dan pastinya sebagai kenang-kenangan. Dan pastinya pengalaman yang diwariskan kepada pembaca  melalui tulisan yang memiliki nilai dan manfaat.

  • STORYLINE -> Formulate a clear storyline

Tentukan inti dari cerita apa yang kita akan tulis, apa yang akan kita bagikan kepada pembaca. Ini penting sekali, agar tulisan kita tidak keluar dari tema dan supaya tidak bertele-tele.

  • GOAL -> Set a goal of your travel story

Dalam menulis tentukan apa tujuan dari kisah perjalanan tersebut. Apakah untuk memberikan panduan di tempat yang kita kunjungi tersebut? Untuk berbagi inspirasi atau untuk memberikan tips-tips dan tujuan lainnya. Pastikan penulis tahu apa tujuan dari penulisan artikelnya agar pesannya sampai kepada pembaca.

  • EXPERIENCES -> Select experiences that build the story

Sebagai penulis kita harus bisa memilih pengalaman-pengalaman apa saja yang akan berkontribusi di dalam cerita perjalanan kita. Dan peristiwa apa saja yang akan menjadi bagian dari tujuan penulisan kita. Saat sharing bagian ini, mbak Windy banyak sekali menceritakan kisah-kisah menarik yang ia temui dalam perjalanannya ke berbagai negara. Ada cerita-cerita menarik parenting dan education yang sangat ‘ngena’ buat saya. Seperti saat mbak Windy bertemu dengan bagaimana seorang Ibu yang mengajak anaknya yang berkebutuhan khusus dengan traveling yang sudah menjadi agenda rutinnya. Ada juga yang ia bertemu dengan satu keluarga muda yang memiliki lima orang anak masih kecil-kecil dan sudah melakukan traveling selama enam bulan berturut-turut. Dan yang menariknya si Ayah bilang bahwa ia melakukan perjalana bersama anak-anaknya karena “This is the best school”. Bagi saya ini sangatlah menarik dan menginspirasi untuk memberikan edukasi secara langsung ke anak dengan traveling., yang bukan hanya melulu duduk di dalam kelas dengan segala teori yang terkadang membosankan. Cerita unik dan menarik inilah yang bisa kita angkat untuk membangun sebuah kisah menarik dari sebuah perjalanan.

  • FIRST PARAGRAPH -> Write an irresistible first paragraph.

Struktur menulis sebuah cerita yaitu memulai – mengembangkan – mengakhiri.

Kuncinya adalah di paragraf pertama. Paragraf pertama harus elaborate. Janji apa yang akan kita ceritakan haruslah di tuangkan di dalam paragraf pertama dan ini harus menarik.

  • DIALOGUE -> Write an impotant dialogues that build story.

Ketika berada si sebuah tempat pasanglah kuping kita lebar-lebar. Dengarkan sekelilingmu berbicara (bukan menguping,ya). Dengarkan apa yang diucapkan oleh anak-anak, dengarkan percakapan dari orang-orang sekitar yang bisa membangun cerita. Bisa jadi percakapan antara dua orang di meja sebelah kita saat berada di restoran akan menjadi bagian dari cerita kita. Pilih dialog menarik,bukan sekedar percakapan basa-basi atau gosip yang tidak berfaedah.

  • SHOW AND TELL -> Combine the power of showing and telling.

Tell the story behind the picture. Foto dengan cerita yang menarik akan menjadi sebuah kekuatan tersendiri dalam tulisan kita.

  • ENTERTAINING not impressing.

Menulis adalah untuk menghibur bukan untuk ingin dipuji apalagi untuk menyombongkan diri. Jika tulisan kita menarik, memiliki nilai manfaat dan humble maka pembaca akan senang dan bisa mengambil suatu makna atau inspirasi dari cerita kita.

  • SENSE OF PLACE -> Explore your senses

Saat sedang traveling gunakanlah semaksimal mungkin lima panca indera kita. Rasakan aura tempat tersebut, ciumlah aroma dan udara di tempat tersebut. Rasakan setiap khas bumbu makanan di tempat tersebut di lidah kita. Lihatlah dengan mata apa yang unik, dengarkan suara di sekitar kita, sentuhlah setiap benda menarik  yang kita temui di tempat kita berpelesir. Because traveling is about to find something new, something different.

  • RESEARCH -> Explore more and go beyond a sight.

Melakukan perjalanan adalah bagian dari riset langsung untuk sebuah penulisan. Semakin kita bereksplorasi, semakin kita banyak menemukan hal-hal unik yang belum pernah kita temukan sebelumnya. Seperti yang mbak Windy bilang menulis perjalanan itu its beyond destination, travel stories that matter.

Saya benar-benar terinspirasi setelah ikut kelas menulis bersama mbak Windy, cara penyampaiannya asik dan cara berpikirnya pun simpel. Orang nya juga sangat humbleShe is really cool. Nggak Cuma dapat pencerahan dalam sistematis menulis aja, tetapi juga bagaimana memaksimalkan dalam melakukan sebuah perjalanan itu sendiri. Semoga ulasan saya ini bermanfaat ya, Moms!

(Kiri: souvenir, Kanan: hadiah karena bertanya)

Love,

Bunda Gio.

 

NB: Artikel ini juga diposting di website The Urban Mama pada 21 November 2017.

1 Comment

  1. Dian Restu Agustina

    14 February 2018 at 1:53 am

    Banyak ilmu baca ini Mbak..thanks for sharing:)

    Dari dulu saya sudah suka traveling, sayang baru belakangan ini menuliskan..Tapi tidak ada kata terlambat bukan?

Leave a Reply