ADAPTASI BATITA SAAT PINDAH RUMAH

Hallo Buibu…apa kabarnya? Intermezzo dulu sdikit ya. Jadi tulisan ini sebenarnya tulisan saya tahun lalu dan tayang di The Urban Mama. Tapi, memang belum sempat di post di blog sendiri, hehe. Memasuki satu tahun saya pindah rumah, jadi saya posting di blog yaa cerita tentang gimana dulu proses adaptasi anak saya waktu kami pindahan rumah. Ternyata dua minggu pertama itu yang tersulit! Lalu gimanaaa? Ok, ini ceritanya……

============================================================================

Moving house for me is exciting yet challenging. Setelah dua tahun tinggal di rumah orangtua saya di kawasan jakarta selatan, kami bertiga (saya,suami dan Gio) memutuskan untuk pindah ke sebuah apartemen di Jakarta Timur.

Exciting karena saya selalu suka hal-hal baru, and finally kami menemukan ‘jodoh’ untuk tempat tinggal kami yang baru setelah sekian lama berikhtiar.
Challenging karena meninggalkan ‘comfort zone‘ saya. Yang dimana segala kebutuhan ada dan tersedia dan nggak perlu banyak mikir.
Dan kini kami hanya benar-benar bertiga, just the three of us.

And here we go

Terlalu fokus dengan mengisi dan melengkapi satu per satu kebutuhan dasar rumah tangga. Ada satu hal penting yang terabaikan.
Yakni, adaptasi si kecil.
Dua minggu pertama, anak saya Gio (dua tahun) terkadang masih uring-uringan dan gampang bosan.
Bahkan, sering sekali tidurnya melebihi jam tidur malamnya karena belum terbiasa di kamar barunya.
Pernah di hari pertama saya dan Gio mulai menginap di tempat baru kami, Gio mulai nggak betah. Bangun tidur sore justru nangis-nangis nggak karuan. Begitu juga malamnya yang sulit tidur dan nangis sambil mengatakan pengin pulang. Maksudnya adalah pulang kerumah neneknya. Jujur, saya panik waktu itu, apalagi waktu itu suami masih di kantor. Akhirnya Gio pun tertidur dengan sendirinya karena lelah.

Setelah ‘drama’ tersebut saya menyadari bahwa usia batita (bawah tiga tahun) ternyata juga butuh beradaptasi.
Saya pikir, Gio bakal senang-senang aja di tempat baru kami. Toh, selama masih bersama ayah bundanya dia akan tenang. Karena selama ini jika menginap di hotel ataupun tempat lainnya dia baik-baik saja.
Saya pikir dengan tetap adanya mainan-mainan favoritnya, Gio akan sibuk dengan mainannya di dalam kamar barunya.
Ternyata yang terjadi adalah sebaliknya.
Dan hingga saat ini kelihatan sekali kalau Gio masih dalam beradaptasi di lingkungan baru. Yang biasanya rumah selalu ramai ada nenek, kakek, tante dan om nya. Kini lebih sepi karena hanya ada kami bertiga, bahkan sering hanya berdua dengan saya ketika ayahnya bekerja.
Dan ketika keluarga saya berkunjung ke tempat kami, Gio sangat antusias dan bahagia sekali. Hingga kinipun Gio sering sekali bermain pura-pura menelepon nenek,kakek dan tantenya dan menanyakan lagi apa. Itu menunjukkan sekali bahwa Gio masih terbiasa dengan lingkungan ramai di tengah-tengah keluarga.
Lalu, yang menjadi adaptasi Gio adalah ruang gerak yang terbatas.
Terbiasa tinggal di rumah sejak lahir, kini tinggal di sebuah unit apartemen yang lebih terbatas ruang geraknya dibanding di rumah orangtua saya. Walaupun dia memiliki kamar sendiri, sepertinya belum berpengaruh terhadapnya. Jadi dia cepat merasa bosan dan sering minta keluar.

Adapun beberapa hal yang saya dan suami lakukan dalam membantu anak kami beradaptasi adalah:

1. Komunikasi
Sesering mungkin kami ajak ngobrol Gio bahwa kini kami tinggal di tempat baru dan menjelaskan tentang lingkungan barunya.
Walaupun anak kami selalu ikut ketika kami survey tempat, tapi kesalahan kami adalah tidak banyak ngobrol dengan Gio sejak awal kalau kami akan segera pindah. Komunikasi selalu menjadi nomer satu. Jangan anggap remeh anak itu belum mengerti apa-apa. Kalau bayi dalam kandungan saja bisa diajak berkomunikasi, apalagi anak batita yang sedang dalam masa keemasan kecerdasan mereka 🙂

2. Libatkan anak ketika beberes atau bebersih unit. 
Gio suka banget ikut-ikutan menyapu lantai atau kebutin kasur pake sapu lidi. So I let him to do that. Anak senang jika merasa dilibatkan, ia akan merasa dihargai. Walaupun pekerjaan jadi selesai lebih lama, tapi positifnya akan terbentuk di mindset nya bahwa jika bangun dan mau tidur kasur harus selalu dikebutin dulu tanpa harus di perintah dulu.

3. Sesering mungkin ajak main outdoor. 
Anak saya tipe aktif sekali. Bermain di dalam ruangan yang minim menggunakan energi dan fisiknya pasti akan cepat bosan. Biasanya pagi dan sore saya dan suami mengajak Gio berjemur sambil sarapan. Lalu bermain di playground ataupun berenang. Gio suka sekali berenang.
Playing outdoor is really him. Energi tersalurkan dengan sempurna. Ketika terasa lelah, akan lebih mudah untuk tidur.
Atau terkadang hanya sekedar jalan-jalan di area apartemen dan ke minimarket beli es krim ataupun cemilan kesukannya juga udah bikin dia senang.

 

4. Fun toys
Demi membuat si kecil sibuk tapi bermanfaat. Saya dan suami niat banget cari info mainan yang cocok buat anak aktif. Kami membelikan blocks dan kereta baterai. Kedua mainannya cukup membuatnya fokus dan asik sendiri. Apalagi di kereta mainannya ada asap-asap kecil dari cerbong dan juga ada suara musiknya.

5. Buku

Gio sangat senang dengan buku. Jadi, beberapa buku favorit nya saya utamakan untuk dibawa ke apartemen kami. Seperti biasa, rutinitas kami kalau sebelum tidur itu murojaah bersama lalu dilanjut dengan baca buku.

Kira-kira itulah pengalaman saya ketika pindahan. Alhamdulillah semakin hari perkembangan proses adaptasi Gio semakin baik dan sudah mulai lebih betah di tempat baru kami sekarang. Bahkan kini saya sangat menikmati sekali ketika saya hanya berdua dengan Gio di apartemen ketika suami sedang kerja tanpa harus galau lagi karena khawatir Gio akan rewel.

Ini cerita saya ketika pindahan, bagaimana kalau ceria buibu? Share yuks!

 

Love,

Bunda Gio.

14 Comments

  1. Dian Restu Agustina

    11 March 2018 at 2:47 am

    Mbak, si sulungku(13 tahun) pindahan rumah 4 kali dan adiknya(8 tahun) 2 kali karena ikut Bapaknya mutasi dan sekolah. Rata-rata memang butuh waktu sih buat adaptasi mereka. Bahkan karena pindah Jakarta ke New Orleans, mereka sebulan masih jetlag setelah pindahan. Malam melek, siang tiduuur. Tapi setelah itu untuk adaptasi yang lainnya malah cepetan anak-anak daripada orang dewasa, misal: kebiasaan, bahasa, budaya, iklim …dll.

    1. Dewi Febrianti

      12 March 2018 at 1:43 pm

      Waa hebat! Hahahaa sebulan jetlag :’D waah serunyaa ke new orleans. Pgn jg ngerasain pindah2 gituu pasti seru dan lebih menantang lg hihii

  2. Leila

    12 March 2018 at 8:34 am

    Terima kasih tipsnya, Mba. Benar juga ya, komunikasi menjadi kunci yang amat penting.

  3. Novia Syahidah Rais

    13 March 2018 at 6:15 am

    Ya, ya, ya, pindah rumah memang punya tantangan tersendiri. Saya sejak menikah sudah 15 kali pindah (rekor MURI wkwkwkwk) karena suatu kondisi yg gak bisa dihindari. Pindahnya kadang antar daerah, kadang msh di kota yg sama. Dan membiasakan anak-anak main di lingkungan baru memang akan membuatnya cepat betah. Dan tips di atas itu sudah bagus dilakukan.

  4. ophi ziadah

    13 March 2018 at 6:53 am

    Anak-anak sebetulnya bisa lebih mudah beradaptasi dr pd orang dewasa menurut saya, apalagi klo bs dikomunikasikan dg baik sm mereka, bersama waktu biasaya mrk kemudian cepat membaur…
    gak baperan kayak yg sdh remaja atau dewasa

  5. Raka

    13 March 2018 at 3:08 pm

    Alhamdulillah… Senang lihat Gio bahagia karena ada bundanya yang sudah luar biasa… terimakasih bunda Gio

  6. Denik

    14 March 2018 at 3:40 am

    Hihihi…seru banget Mba. Makasih tipsnya. Sangat bermanfaat.

  7. Dwi Arum

    14 March 2018 at 9:40 pm

    I feel you mbak. Sejaj anakku satu tahun (sekarang 4 tahun) udah beberapa kali coba pindah ke rumah sendiri dan beberapa kali juga tepatnya sampe sekarang masih di rumah mertua. Entah si kecil yang emang udah nyaman di rumah eyangnya atau emang eyangnya yang juga kangen, jadi berasa gt kali ya energinya. Tipsnya akan ku cobaaa, semoga kali ini berhasillll… 🙂

  8. Elva Susanti

    17 March 2018 at 4:00 pm

    pindah rumah? seru sih tapi bagi saya ada ribetnya juga😁

  9. April Hamsa

    17 March 2018 at 5:33 pm

    Saat akan pindahan rumah kemarin saya sounding anak2. Berulang2 ttg lingkungan baru, ngajak anak2 ke calon rmh, dll. Alhamdulillah pas hari H mereka dah gak terlalu kaget dan lekas menyesuaikan diri 😀

    1. Dewi Febrianti

      18 March 2018 at 12:07 am

      Iyaa bener ya mbak, byk di brief dulu. Waa semoga happy di rumah barunya!

  10. El-lisa

    17 March 2018 at 9:40 pm

    Ini anakku yang nomor dua, lama adaptasinya. Si sulung kalau diajak pindah tempat baru, gampang banget adaptasinya. Bahkan kami selalu menjuluki dia, ketemu tuyul juga langsung akrab ni bocah. Hahaha

  11. lita chan lai

    17 March 2018 at 10:18 pm

    jadi ingat dulu waktu mama papa pindah rumah. saya sempat kaget, sampe sakit pengen balik kerumah yg lama. emang adapatasi anak emang penting.

  12. Vivi

    20 March 2018 at 3:08 pm

    Wah terima kasih tips-tipsnya mbak. InsyaAllah berguna andai suatu hari akan pindah. Intinya keeps the children busy ya, dan membuatnya tetap nyaman dan menyenangkan. Barakallah mbak

Leave a Reply